3/25/2011

Ya Habibullah…Ya Rasulullah

makam-nabi-muhamamd

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Kisah ini seharusnya dapat membukakan pintu hati kita tentang bagian cinta yang selama ini kita berikan kepada manusia paling agung di bumi ini, pribadi yang selama ini kita sepelekan. Padahal Rasulullah SAW tak pernah sedikitpun berpaling memikirkan umatnya di generasi selanjutnya.Tak Rindukah kau dengannya sedangkan ia  menyanjungmu di depan sahabat-sahabatnya hingga membuat mereka iri?

 

Bacalah…renungilah bagaimana beliau memnaggil namamu di ujung nafasnya.

Bayangkan seolah-olah engkau melihat kematian beliau di hadapanmu.

 

* * * 

Pagi itu, meski langit telah mulai menguning,burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata-bata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, sunnah dan Al Qur'an. Barang  siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan  kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba."Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu.Manusia tercinta  itu hampir usai menunaikan tugasnya di dunia, Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar.Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana  pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang  berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

 

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?"tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya  masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang  ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah,  "Siapakah itu wahai anakku?"

"Tak tahulah aku ayah,sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang.

"ketahuilah dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.  Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun meledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai.Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. 

"Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. 

"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

"Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan  kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" 

"Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada didalamnya," kata Jibril. 

Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini." lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka.

"Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya  Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

"Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril. 
 

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik,  karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua  siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya.

"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu." 
 

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.Fatimah menutupkan  tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

"Ummatii, ummatii, ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku" Dan, pupuslah kembang hidup manusia mulia itu. 
                       

* * * 

Kini, mampukah kita mencinta sepertinya?

Allahumma  sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi 
                      

0 komentar:

Posting Komentar