9/08/2014

Referensi untuk Menghafal Ayat-Ayat Mutasyabihat


Salah satu kesulitan yang ditemui  dalam proses menghafal Al-Quran Al-Karim adalah menghafalkan ayat-ayat yang memiliki kesamaan atau kemiripan lafadz, sehingga saat menghafal maupun murojaah menyebabkan tertukarnya ayat yang satu dengan ayat yang lain.  Ini juga hal yang saya alami saat  awal belajar menghafal juz 30. Sangat susah rasanya menghafal ayat ayat pendek yang hampir mirip satu sama lain, terlebih lagi ayat tersebut muncul lagi di surat yang lain.

Setelah membaca buku motivasi menghafal Al-Quran  karya  Yahya Abdul Fattah Az-Zawawi (Al-Hafizh) Yang berjudul  "Revolusi Menghafal Al-Qur’an. Cara Menghafal, Kuat Hafalan dan Terjaga Seumur Hidup"(1) 

dimana buku tersebut merupakan buku yang merupakan hasil riset penulisnya mengajar Al-Qur'an selama 40 tahun, saya menjadi tahu bagaimana langkah langkah menghafal Al-Quran, mulai dari apa keutamaan menjadi penghafal Al-Qur'an hingga permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh penghafal Qur'an. Di dalam buku ini terdapat satu bab khusus mengenai ayat-ayat mutasyabihat. Ternyata terdapat 2000 ayat dalam Al-Quran yang sama dari segi lafadzhnya (berarti kurang lebih hampir sepertiga dari jumlah ayat Al-Qur'an). Ayat ayat yang mirip dari segi lafadzh tersebut disebut dengan ayat mutasyabihat.

Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang... (QS: Az-Zumar-23)

Contoh ayat Mutasyabihat dapat dilihat di contoh ayat mutasyabihat

ayat ayat mutasyabihat sebenarnya memberikan kemudahan bagi penghafal Qur'an karena hampir sepertiga ayat di Al-Qur'an hampir sama dari segi lafadzh, sehingga ayat yang dihafalkan lebih mudah karena berulang-ulang. Namun di sisi lain hal tersebut juga menjadi tantangan bagi penghafal Qura'n saat menyetor ataupun murojaah, karena bisa jadi terjadi kesimpangsiuran atau terhenti untuk mengingat ayat selanjutnya. Untuk memudahkan masalah tersebut yahya Abdul Fattah Az-Zawawi (Al-Hafizh)  menyusun satu buku lagi yang berjudul "Dalil Al-Huffadz fi Mutasyabih Al-Lahfz" yang berisi kumpulan ayat-ayat Mutasyabihat disertai tanda-tandanya. Buku ini diharapkan penulisnya dapat membantu menguatkan hafal ayat-ayat Mutasyabihat. 

Saya sudah berusaha mencari buku ini , karena saya yakin buku ini nantinya sangat berguna bagi proses menghafal saya. Saya mencari di  toko-toko buku online dalam negeri sama seperti sebelumnya saya mencari buku beliau Revolusi Menghafal Al-Qur’an. Tapi saya tidak menemukan sama sekali ada yang menjual buku Dalil Al-Huffadz fi Mutasyabih Al-Lahfz. Ketika mencari versi e booknya barulah saya menemukannya.Hm....saya tau, mungkin buku ini belum diterjemahkan di dalam negeri sehingga memang tidak ada yang menjual buku ini di dalam negeri. Sayangnya, bagi orang awam seperti saya yang sama sekali tidak tahu tentang bahasa Arab buku ini sangat susah dimengerti, e-book yang saya temukan ditulis dengan menggunakan tulisan dan bahasa arab, untuk mempelajarinya saya terpaksa meraba-raba isi dalam buku tersebut. Bahkan untuk mencarinya di google pun tidak ditemukan hasilnya bila ditulis dalam tulisan latin, harus dalam tulisan Arab.  Berikut e -book dapat diunduh di Dalil Al Huffadz Al Mutasyabih Al Lahfz

saya berharap jika ada seseorang yang paham bahasa arab membaca tulisan ini atau penerjemah buku beliau sebelumnya dapat berbaik hati menerjemahkan buku tersebut, sehingga buku tersebut memudahkan menghafal Al-Qur'an.

(1) diterjemahkan dari buku  yang berjudul 'Khairu Mu'in Fi Hifzhi Al Quran Al Karim


8/18/2014

syukron ya Ummi :)

Alkisah, pagi ini menimbang-nimbang mau pindah kos, ke kos yang jauh lebih bagus, lingkungannya lebih bersih,  fasilitas yang lebih lengkap tv 31 inch, kulkas, dapur (aaa....dapur dan kulkas, selama ini jarang mengolah ketrampilan masak memasak karena di kos yang sekarang g ada faisilitas itu, hikz...hikz) dan  jauh lebih murah (ini juga poin penting, dengan haga yang jauh lebih murah tapi fasilitas lebih lengkap, siapa yang tidak berminat?). Tapi dasar aku yang masih berpikiran sempit, hanya liat dari sisi positifnya  lupa sama satu hal yang penting. Setelah menceritakan ke ibu sekalian meminta doa restu dan pendapat akan pindah kos, ibu langsung ngingetin sesuatu, "jangan ah, ada anjingnya, nanti kalo kamu berdoa g dikabulkan gimana?. Yups, ibu kos tersebut non islam dan punya anjing peliharaan.

Rasulullah bersabda: “Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing dan juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar(patung).” (H.R. Bukhari, Muslim, Ahmad. Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah)

menurut para ulama tidak ada masalah apabila memelihara anjing untuk manfaat-manfaat ril seperti menjaga rumah-rumah, untuk keperluan berburu atau untuk keperluan-keperluan baru seperti melacak bahan-bahan peledak, NARKOBA dan juga operasi-operasi SAR ketika terjadi  bencana-bencana alam. Namun apabila semata-mata untuk bersenang-senang menyalurkan hobi tanpa manfaat yang berarti maka perbuatan ini akan menyebabkan sebagian ibadah tidak diterima.
*peluk ibu :)

sumber :  http://kerajaandomba.wordpress.com/category/hadist-shahih/

5/08/2014

Lagi Haid, tapi gak mau jauh dari Al-Qur'an....nah

Sudah menjadi fitrah bagi wanita setiap bulannya kedatangan 'tamu' penting. Nah 'tamu' penting yang bernama haid ini terkadang dipandang negatif karena jika dia datang karena beberapa amalan ibadah haram hukumnya jika dilakukan pada saat haidh, antara lain sholat, puasa, jima' dan thawaf. bagaimana dengan interaksi dengan Al-Qur'an saat haidh?, apakah haram hukumnya?. 

Sebenarnya masalah ini merupakan masalah khilafiyah di kalangan para imam dan para ulama. Sebagian kecil dari mereka mengharamkan membaca Al-Qur'an bagi muslimah yang sedang haidh. Namun Jumhur ulama berpendapat bahwa muslimah yang sedang haid boleh membaca Al-Qur'an. 


Hukum asal membaca Al-Qur'an sendiri  adalah dibolehkan asal tetap menjaga adab dan kesucian untuk memuliakan Al-Qur'an.

      Allah Ta’ala berfirman:

   “Sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang       terpelihara (Lauhul Mahfudz), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang         disucikan,” (Al-Waqi’ah: 77-79).

    Dan Rasulullah beersabda:

   “Janganlah kamu menyentuh Al-Qur'an kecuali kamu dalam keadaan suci dari            hadats,” (HR Ad-Daruquthni: 1/23, hadist shahih).

Adapun dijelaskan dalam satu riwayat bahwa Rasulullah tidak membaca Al-Quran dalam keadaan junub  

    Dijelaskan dalam satu riwayat. Dari Ali, ia berkata, “Rasulullah SAW selalu       membacakan Al-Qur'an kepada kami dalam segala keadaan selama beliau tidak         dalam keadaan junub.” (HR Tirmizi dan Ahmad). 

    Dalam riwayat lain disebutkan, “dari Ali ra bahwa tidak ada yang menghalangi     Rasulullah SAW dari membaca Al-Qur'an, kecuali beliau dalam keadaan junub.”       (HR Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, al-Nasa’i, al-Hakim, dan Ibnu Hibban).

     Hadits lain dari Ali bin Abi Thalib Radhiallahu ‘Anhu,

أنه لا يحجزه شيء عن القرأءة إلا الجنابة

     “Bahwasanya tidak ada suatu pun yang menghalanginya dari membaca Al-Qur'an        kecuali junub.”(HR. Ibnu Majah No. 594)

namun tidak ditemukan dalil kuat yang melarang muslimah yang sedang haid membaca Al-Qur'an (dalil-dalil yang merujuk permasalahan mengharamkan membaca Al-Qur'an pada saat haid kebanyakan dhaif dan lemah). Menganalogikan haid dengan junub juga adalah suatu analogi yang jauh ( qiyas ma’a al-fariq) karena seorang yang sedang junub bisa dengan segera menghilangkan junubnya dengan segera mandi dan ia harus melakukan itu agar bisa menunaikan shalat sedangkan wanita yang se dang haid harus menunggu sampai haidnya berhenti terlebih dulu yang terkadang memakan waktu berhari-hari. Melarang muslimah yang sedang haid untuk membaca Al-Qur'an  akan menghalangi mereka mendapatkan pahala tilawah Alquran dalam jangka waktu yang lama dan mungkin juga akan menyebabkan mereka lupa akan hafalan Alquran. hal tersebut berlaku jika  perlu membaca Alquran untuk belajar dan mengajar.

    Bahkan, Ibnu Taimiyyah dan sebagian ulama Mazhab Maliki berpendapat bahwa         wanita yang sedang haid boleh menyentuh mushaf Al-Qur'an jika dalam keadaan       mendesak, seperti untuk menghafal agar tidak lupa atau untuk belajar dan         mengajar. 

   Ulama  Al Lajnah Ad Daimah lil Ifta' berkata :' Bagi wanita haid boleh membaca    Al-Qur'an dengan hafalan tanpa memegang mushaf secara langsung, dikarenakan      ada sebaba yang mengharuskan untuk membaca agar tidak lupa dengan hafalannya"    (Fatwa Al Lajnah Ad Daimah: 4/232)

   Syikh bin Baz Rahimahulloh berkata: "bagi wanita haid dan nifas boleh membaca    Al-Qur'an dengan hadfalan, karena jangka waktu keduanya lama (dikhawatirkan      lupa), dan sedangkan diqiyaskan dengan junub itu kurang tepat, maka dari itu      bagi seorang murid tidak mengapa membaca Al-Qur'an, begitu juga pengajar          ketika ujian maupun tidak. Membaca hafalan tanpa memegang mushaf, tetapi jika    mengharuskan keduanya memegang mushaf maka tidak mengapa dengan syarat            menyentuhnya dengan alas" (majmu' fatawa ibn baz: 6/360).

   Syaikh ibn utsaimin rahimahulloh berkata: "bagi wanita haid dibolehkan membaca    Al-Qur'an baik dengan tafsir maupun bukan tafsir jika dikhawatirkan hafalannya    lupa. Jika membaca dengan tafsir tidak disyaratkan dalam keadaan suci, tapi      jika mmebacanya bukan dengan tafsir (mushaf) maka hendaklah antara dia dan        mushaf ada alas (pembatas) seperti sapu tangan, sarung tangan atau sejenisnya,    karena wanita yang sedang haid dan begitu juga orang yang belum suci tidak        diperbolehkan baginya menyentuh mushaf" (fatwa nuur 'ala Ad darb, Ibn            'Utsaimin 27/1/123)


Berdasarkan hal itu maka dibolehkan bagi murid yang sedang haid untuk menghafal Al-Qur'an meskipun ia dalam keadaan haid karena ini adalah keadaan yang mendesak. Namun, untuk keluar dari perbedaan pendapat ulama maka sebaiknya  tidak menyentuh mushaf atau  jika menyentuh harus ada penghalang sehingga ia tidak menyentuh mushaf itu secara langsung. 


Sumber :

http://muhammadsurya.wordpress.com/2008/07/29/wanita-haid-atau-orang-junub-membaca-al-quran/

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/fatwa/13/01/23/mh2fy9-menghafal-alquran-ketika-haid-bolehkah

http://www.nurulhikmahciputat.com/2013/12/bolehkah-wanita-haidh-membaca-al-quran.html#comments

http://www.ustadzfarid.com/2011/08/apakah-orang-berhadast-boleh-membaca-al.html